Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menggulirkan wacana mengevaluasi pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung. Ketika wacana evaluasi itu disusul ide mengganti…
You must be logged in to view this content.
Meningkatkan Dinamika Masyarakat
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menggulirkan wacana mengevaluasi
pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung. Ketika wacana evaluasi itu
disusul ide mengganti pilkada langsung menjadi pemilihan oleh DPRD,
tentu memunculkan pro dan kontra.
Dalam kerangka demokrasi, pilkada langsung adalah format ideal karena
setiap warga yang punya hak pilih berhak menentukan kepala daerah
masing-masing.
Evaluasi pilkada langsung hendaknya bukan mengubah ”langsung” menjadi
”tidak langsung” atau dipilih lagi oleh DPRD, melainkan mengkaji secara
mendalam sistem pemilihan langsung.
Kerangka ini harus jadi pedoman dan pijakan untuk menganalisis
kekurangan pilkada langsung. Salah satu alasan mengubah pilkada langsung
menjadi tak langsung adalah pilkada langsung menyebabkan tingginya
biaya politik serta meningkatnya korupsi dan ketegangan politik.
Realitas pilkada langsung ”berbiaya mahal” sebenarnya berkorelasi
langsung dengan kemalasan partai politik melebur bersama rakyat dan
kemalasan kandidat kepala daerah berjuang dari bawah agar dikenal
pemilih. Masalah bukan pada sistem pemilihan langsung.
Kecenderungan yang muncul adalah oligarki. Pemegang modal besar
berpeluang lebih besar untuk terpilih. Pilkada langsung telah mengubah
substansi demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat menjadi
demokrasi yang berbasis kekuatan kapital.
Persoalan ini harus dipahami dengan baik bahwa kesalahan bukan pada
kerangka demokrasinya, yakni pemilihan langsung, melainkan buruknya
pemahaman politikus dan partai politik tentang kaidah berdemokrasi yang
benar. ”Membeli” suara pemilih jadi kredo berdemokrasi. Ini masalah
terbesarnya.
Membangun kedewasaan berpolitik bahwa memilih pemimpin jangan karena
iming-iming uang dan sejenisnya adalah kerja keras yang dibutuhkan.
Evaluasi pilkada langsung bukan mengubah menjadi dipilih oleh DPRD.
Evaluasi hanya pada efisiensi proses dan pematangan peran politik partai
politik dan kandidat kepala daerah agar tak berkredo ”membeli suara”,
tetapi berjuang dari bawah di tengah rakyat pemilih.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menggulirkan wacana mengevaluasi pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung. Ketika wacana evaluasi itu disusul ide mengganti…
You must be logged in to view this content.