Rabbial Muslim Nasution melakukan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumatra Utara, diduga di bawah pengaruh istri. Berikut laporannya. Begitu…
You must be logged in to view this content.
Meningkatkan Dinamika Masyarakat
Rabbial Muslim Nasution melakukan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumatra Utara, diduga di bawah pengaruh istri. Berikut laporannya.
Begitu Rabbial meledakkan diri di mapolrestabes Medan, Rabu (13/11),
polisi langsung menyelidikinya termasuk latar belakang dan keluarganya.
Rabbial masih tergolong muda. Dia berusia 24 tahun. Sesuai data kependudukan, Rabbial lahir pada 1995.
Sejumlah orang diperiksa. Salah satu yang menjalani pemeriksaan adalah Dewi Anggraini, istri Rabbial. Status Dewi masih saksi.
”Masih [dimintai] keterangan sebagai saksi. Jadi sampai saat ini ada 12
orang saksi yang sudah kami periksa. Ada istri, orang tuanya, mertua,
kakak, dan tetangganya,” ujar Wakapolda Sumut Brigjen Pol. Mardiaz Kusin
Dwihananto kepada wartawan di Mapolrestabes Medan, Kamis (14/11).
Dari keterangan sementara, Rabbial diduga terafiliasi kelompok radikal.
Salah satu pihak yang memengaruhi Rabbial adalah istrinya. Densus 88
Antiteror mengungkapkan Rabbial melakukan aksi amaliah karena
dipengaruhi oleh Dewi.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol. Dedi Prasetyo mengemukakan Densus 88 menangkap Dewi di rumahnya di Jl. Jangka No. 89B, Sei Putih Barat, Medan Petisah, Sumatra Utara.
Berdasarkan hasil penyidikan sementara Densus 88, istri Rabbial terpapar paham radikal lebih dulu dibandingkan Rabbial.
Dewi terpapar radikalisme karena sering berkomunikasi dan berkunjung ke LP Kelas II Wanita di Medan untuk menemui narapidana terorisme berinisial I.
Dewi bertemu I membicarakan rencana melakukan teror di Bali.
Menurut Dedi, Dewi dan I juga cukup aktif berkomunikasi melalui media sosial. ”Dalam komunikasinya, mereka berdua punya rencana untuk melakukan aksi teror di Bali,” kata Dedi.
Berdasar penelusuran polisi, Rabbial pernah memiliki saluran khusus di Youtube. Saat ditelusuri Bisnis.com, dalam salah satu unggaran video di Youtube tersebut RMN sempat membuat parodi banjir di daerahnya dengan menghadirkan dua pejabat yang diperankan dua pria muda.
Pantauan pada Kamis, kanal Youtube RMN ramai dikunjungi dan dikomentari pascabom bunuh diri kemarin. Pada akhir video, RMN menuliskan nama-nama tim kreatif, nomor telepon dan alamat e-mail RMN di Yahoo.com.
Tim Inafis dan Labfor Polda Sumut mendatangi dua rumah di Jl. Serdang Uni Kampung, Medan Belawan, milik SA dan F. Keduanya adalah rekan pelaku bom bunuh diri Rabbial.
Mereka masuk ke rumah yang berada di dalam gang kecil. SA dan F disebut sebagai rekan kegiatan agama Rabbial. ”Dewi yang diduga terpapar lebih dahulu dibandingkan pelaku,” kata Dedi.
”Secara fisik sudah pernah berkomunikasi atas nama I, yang saat ini sedang menjalani proses hukuman di lapas kelas 2 wanita yang ada di Medan. Dan di dalam jejaring komunikasi media sosialnya mereka merencanakan aksi terorisme di Bali. Itu lagi didalami dan dikembangkan,” ujar Dedi.
Aksi bom bunuh diri di Polrestabes Medan menunjukkan penyebaran paham-paham radikal masih terjadi.
Meski tak mudah untuk mengetahui apakah anggota keluarga kita terpengaruh paham-paham tersebut, setidaknya ada tanda-tanda yang bisa digunakan untuk mengidentifikasinya.
Pengamat terorisme Al-Chaidar menyebutkan setidaknya ada tiga tanda yang menyiratkan pengaruh pemikiran radikal destruktif.
Pertama, Al-Chaidar menyebut adanya perubahan sikap kepada orang yang direkrut atau terpengaruh paham tersebut. Korban atau orang yang terpengaruh menjadi asosial.
Kedua, korban atau orang yang terpengaruh mengalami perubahan pola pikir.
“Ketiga, ada kebencian terhadap pemerintah,” ujarnya.
Di luar korban, keluarga juga memiliki peran penting tersendiri agar anak muda tidak terseret dalam paham ini. Keluarga bisa melakukan tindakan preventif untuk mencegah anggota keluarga terperosok dalam paham radikal destruktif.
Al-Chaidar menyebut keluarga dapat memproteksi anggota keluarga dengan senantiasa memberi dukungan dan kasih sayang.
Halnya menjadi lain jika anggota keluarga sudah terpengaruh paham tersebut. Detoksifikasi racun-racun pemikiran harus dilakukan. “Detoksnya harus dengan ulama yang ahli,” ujar Al-Chaidar.
Sementara menurut Fahlesan Munabari dari Pusat Kajian Komunikasi dan Keindonesiaan, untuk menghindari terperosok ke dalam paham ini, anak muda dan masyarakat harus saling peduli, termasuk dengan sekitarnya.
Sementara untuk kasus anak atau anggota keluarga yang sudah terpengaruh, langkah yang bisa diambil keluarga akan sangat tergantung dari level terpengaruhnya korban paham radikal destruktif ini.
“Kalau sudah parah, ya mau gak mau segera laporkan ke yang berwajib,” ujar Fahlesa. (Akhirul Anwar/Detik/JIBI)
Rabbial Muslim Nasution melakukan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumatra Utara, diduga di bawah pengaruh istri. Berikut laporannya. Begitu…
You must be logged in to view this content.